Mutiara yang terlupakan

Juni 26, 2008 oleh hayatisyahril

Senja di lampu merah…….
Mutiara putih berserak
Mengetuk kaca mobil
Bening matanya menatap sendu
Bagai purnama terang tapi suram
Serak suara bersenandung
Tangan mungilnya menghulur harap
Keping receh menari menghiburnya
Tatapan sinis dan kata kasar menampar wajahnya
Senja di persimpangan…..
Kaki-kaki kecil berlari
Mengejar bintang
Sorak ceria bujuk laparnya
Lalu…lelah
Malam menelan alam
Tengah malam Di sudut pertokoan…….
Kaki mungilnya melekuk kedinginan
Rembulan merangkulnya memeluk hanat
Mutiara negeri yang tersia-siakan
Kutakut kembang tak jadi mekar
Mutiara berhenti bersinar

Mizan

Juni 26, 2008 oleh hayatisyahril
Mizan membayang di tiap detik
Mengikuti langkahku , langkahmu , langkah dia
Menyorot kamera ditiap titik
ku celingak celinguk, Mengedap –ngedap
tak ada mata –mata !
Aman terbuat dosa
mizan tersenyum sinis membisik masa
dimana tuhan dalam hati mereka
saat shalat saja
saat takut saja
saat berdosa , apakah tuhan tdk ada ?
mizan terus membayang
dibelakang sujud , zikir dan sadagah
dibelakang , dusta , zalim dan sia –sia
dibelakang ikhlas dan pura –pura
mizan kan terus membayang
sampai gendrang maut dipukulkan
ia beristirahat menunggu persaksian
membongkar kebohongan

Bunda terkoyak

Juni 26, 2008 oleh hayatisyahril

Bunda terkoyak merangkul duka
diam dikunci cinta
Putra putri mencabik – cabik dangingmu
Berebut warisan di rapuh tubuhmu
Kau semakin sesak
Gemuruh dadamu kini terasa
Deras air mata
Membenam wajahmu
Nyaris berubah darah
Kemudian kering rengkah
Di kejauhan …kudengar pikikmu bersama deru ombak
lalu mengelepar payah
Bundaku sayang …
disini ku dengar eranganmu
lewat bisik debu jalanan
ingin kuhapus air matamu
putramu menguras lagi
ingin ku balut lukamu
putrimu mencabik lagi
maafkan Aku bunda …….

Keinginan Hati

Juni 26, 2008 oleh hayatisyahril
Wahai perantau alam fana
Mata memandang semua indah
Hati memeluk sejuta keinginan
Nafsu melukis di kanfas esok pagi
Wahai pengembara……….
Laut terbentang di hadapan
asa merengek kahausan
Nafsu melenggok merayu
Teguk segelas air laut itu
Hausmu bertambah panjang
Tersungkur engkau dalam jurang kesal
Marah, protes pada Tuhan
Menangisi hujan tak turun esok hari
Lupakah kau, hujan-hujan kemarin
menyentuh lembut taman-taman impian?
Jangan biarkan sungai beningmu
Menyirami kehancuran
Bukakan jendela hatimu
Biarkan sabar dan syukur memilih ruang
Cahaya yang menyibak dusta fatamorgana
Tengadahkan wajahmu penuh harapan
Tuhan penguasa masa depan menggenggam impian
wahai perantau alam fana
Bundamu menunggu di gerbang kampung halaman

Keinginan Hati

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril
Wahai perantau alam fana
Mata memandang semua indah
Hati memeluk sejuta keinginan
Nafsu melukis di kanfas esok pagi
Wahai pengembara……….
Laut terbentang di hadapan
asa merengek kahausan
Nafsu melenggok merayu
Teguk segelas air laut itu
Hausmu bertambah panjang
Tersungkur engkau dalam jurang kesal
Marah, protes pada Tuhan
Menangisi hujan tak turun esok hari
Lupakah kau, hujan-hujan kemarin
menyentuh lembut taman-taman impian?
Jangan biarkan sungai beningmu
Menyirami kehancuran
Bukakan jendela hatimu
Biarkan sabar dan syukur memilih ruang
Cahaya yang menyibak dusta fatamorgana
Tengadahkan wajahmu penuh harapan
Tuhan penguasa masa depan menggenggam impian
wahai perantau alam fana

Bundamu menunggu di gerbang kampung halaman

SYA’IR-SYA’IR ANDALUSIA

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril
Jika hari ini kita berkunjung ke Spanyol, tak terbetik sedikitpun di benak kita jika Islam Pernah berkuasa di sana selama ± 800 th (712M – 1492M/ 93H- 898H). waktu yang sangat fantastis !!!. Dalam kurun waktu tersebut Islam jatuh bangun dalam membangun peradaban dan kebudayaan. Hingga Andalusia saat itu satu-satunya negara Islam terjaya di Eropa. Andalusia bagai Negara Arab yang terlahir di Eropa, di segala segi berwajah Islam dan Arab, baik agama, hukum, budya, bahasa dan lainnya.Saat itu bahasa Arab adalah bahasa resmi Andalusia yang digunakan semua penduduk Islam dan non Islam.
Kini kita hanya bisa bernostalgia membaca sejarah yang kaku, kejaaan Islam di Spanyol tinggal lembar-lembar kenangan bisu. Peradaban yang dibangun berabad-abad dengan peluh perjuangan, air mata penderitaan dan darah pengorbanan, sirna tak tersisa. Namun ada kenangan abadi yang nyaris terlupakan, yang mampu membawa kita menuju lorong kejayaan Islam di Spanyol . Karya sastra!!! Ia ungkapan jujur lahir dari perasaan tulus para sastrawan yang cinta agama, bangsa dan tanah airnya. Ada bangga, kecewa, berontak, cinta. Kita akan mengintip Andalusia melalui karya sastranya.
Andalusia dalam Kenangan
Sebelum dikuasai Islam, Andalusia adalah sebuah daerah yang dikenal dengan nama Iberia dinisbahkan kepada bangsa Los Iberos penduduk pertama daerah ini, kemudian dikenal dengan nama Hespania ketika Romawi berkuasa. Sebelah selatan Hespania disebut Betica, kemudian dikenal dangan Vandalisia. Dan ketika Islam dating dan berkuasa, semua daerah itu diberi nama Andalusia diambil dari Vandalos nama sebagian besar kabilah Eropa Selatan.
Andalusia yang terletak di sebelah barat daya Eropa dikelilingi oleh perairan kecuali arah timur laut berbatasan dengan gunung Puerte yang memisahkannya dengan Perancis. Adapun perairan yang mengelilinginya adalah Samudera Atlantik di sebelah barat dan barat daya. Di arah selatan adalah pertemuan laut dan daerah tempat gunung giblaltar yang merupakan batasan sempit antara utara Afrika dan selatan Spanyol ± 15 km. Andalusia terdiri dari beberapa unsur alam yaitu dataran tinggi yan terluas bernama Maseta, setelah dataran tinggi itu, sebelah selatan ada gunung yang berjejer gunung Sierra Morena dan sebelah timur ada gunung Sistema Iberico, sebelah utara gunung Cantabrica. Andalusia juga diairi oleh sungai-sungai seperti sungai Guadalivir yan melalui dua daerah besar Cordova dan Isbelia, sungai El-Tejo yang mengalir di tengah dataran tingi Maseta, kemudian sungai Ebro yang mengalir di kota Zaragoza .
Secara geografis Andalusia adalah daerah pegunungan, dikelilingi dan dilalui oleh perairan, jelas dia daerah yang indah dan subur, sangat berbeda dengan Negara Arab lainnya. Di sinilah letak keunikan karya sastra Andalusia terutama puisi, di mana puisi Arab di jazirah Arab dalam sebagian tema dan gaya bahasa dipengaruhi oleh alam yang tandus, gersang dan panas. Sedangkan Sastra Arab di Andalusia dipengaruhi oleh alam yang indah, hijau, subur, dan sejuk. Seperti yang saya bahas dalam skripsi S1 tentang Pengaruh alam dalam Sya’ir Andalusia.
Syair-sya’ir Arab Andalusia
Karya sastra sebagai cermin jernih kehidupan, dalam tema dan idenya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyairnya. Baik lingkungan alam, ekonomi dan politik. Begitu juga dengan sya’ir-sya’ir Arab Andalusia.
Karena panjangnya rentang waktu keberadaan Islam di Andalusia, karya-karya sastranya dibagi berdasarkan perkembanan politik
1. periode wulat ; periode yang dimulai dengan kemenangan Islam tahun 93 h /712 m dan berakhir dengan berdirinya daulah bani umayyah di Andalusia dibawah kekuasaan Abdurrahman Ad-Dakhil th 138 h/755m .
2. periode pembentukan pemerintahan dimulai dari berkuasanya daulah umayyah di andalusia dibawah pemerintahan Abdurrahman Ad-Dakhil dan keturunannya sampai tahun 238 H/852M
3. periode konflik pemerintahan mulai sejak berkuasanya Abdurrahman Ausath dan dan keturunannya berakhir pada tahun 316H/929M
4. periode Khilafah/ Masa keemasan Islam di Andalusia di bawah kekuasaan Khalifah An-Nashir Lidinillah /Abdurrahman III berakhir pada tahun 366H /976M
5. periode kemunduran yang berakhir pada tahun 399H/ 1009M
6. Periode fitnah mulai sejak terpecahnya pemerintahan Andalusia menjadi beberapa daerah bagian di bawah pimpinan orang Arab dan Barbar
Masing-masing periode ini mempunyai ciri khas karya sastra yang berbeda. Di mana pada awal kekuasaan Islam di Andalusia, bentuk sya’irnya masih mengikuti style sya’ir Arab di Jazirah Arab dan penyairnya pun masih penyair rantau. Kemudian berkembang dari segi tema, style, dan struktur sya’ir.
Di segi tema, sya’irnya berkembang berdasarkan gejolak politik, sukuisme (Arab, Barbar dan Spanyol), pesona alam (perbedaan alam Andalusia dan Arab yang sangat kontras melahirkan kekaguman yang luar biasa bagi penyairnya).
Style sya’ir Arab Andalusia terkenal dengan kelembutan dan kehalusan dalam pemilihan diksi, dan gaya bahasa terutama dalam tasybih (perumpamaan) dan majaz isti’arah( personifikasi).
Dalam struktur, sya’ir Andalusia biasa mengunakan bahasa penghantar. Dan penyair masa ini menciptakan corak baru bernama Tausyih atau muwasysyah. Tausyih biasanya terdiri dari beberapa bagian, tiap bagian terdiri dari 5 bait. Bait pertama sampai ketiga dalam setiap bagian mempunyai rima /qafiyah berbeda, sedangkan bait keempat dan kelima mempunyai rima yang sama pada semua bagian. Berbeda dengan susunan syair Arab biasa yang terikat dengan Prosodi dan rima yang sama.
penyair-penyair yang terkenal masa ini adalah Abdurrahman Ad-Dakhil, Ibnu Hani Al-Andalusy, Ibnu Zaidun, Ibnu Jubair dll.
Sya’ir Abdurrahman Ad-Dakhil ketika hijrah ke Andalusia :
Batu berderai di tengah kita
pohon kurma terasing di Barat
Aku seperti dirimu terlempar jauh dari buah hatiku
Terbelenggu dalam kerinduan kekasih
Lalu hujan pagi membelai kita
Untuk tersenyum sore ini
Dari segi tema, sya’ir ini biasa saja, descriptive poetry. Tapi penyajiannya lahir dari athifah (perasaan) yang dalam. Ia mendiskripsikan pohon kurma dengan deskripsi per asaan dan mencitrakannya dengan citraan jiwa. Dia gambarkan pohon kurma terlempar jauh dari negerinya (Timur) ke negeri Barat. Dan dia komparasikan pohon kurma dengan dirinya yang terasing dan jauh dari sanak keluarga, terusir dari negerinya Bagdad karena masalah politik. Terakhir dia menghibur  pohon kurma dengan turunnya hujan pagi yang menyirami seperti dia terhibur oleh keberhasilannya memimpin Andalusia dan mendirikan Daulah Bani Umayyah di sana .
Sya’ir Ibnu abdi Rabbih
Cakrawala menyihir dalam genggam pena
Berkisar di tubuh lembar-lembar
Kuterpana
Lafaz asingnya bercerita indah
Kita terpesona membisu, telinga hanyut dalam nyanyiannya
Mata terpukau saksikan tariannya
Hanya kau mengetuk hati
Saat kau meliuk lukisan indah tercipta
Kau mutiara kata terpelihara
Lalu…titikmu menghujan di atas kitab
Sya’ir ini lahir pada masa keemasan Islam di Andalusia di bawah pimpinan Abdurrahman III, masa yang jaya di semua aspek kehidupan. Ekonomi, pembangunan, budaya, sastra dan ilmu pengetahuan. kemajuan yang nyaris sempurna. Penyair sanggat terispirasi dengan pena sebagai alat penyebar ilmu pengetahuan dan sastra.
Sya’ir Abu Mutharrif Ibn Abi Hibbab
Tiada hari seindah hari-hari kita bersama Amiriyah
Sejuknya Air, teduhnya naunganmu
Cuaca yang selalu cerah dan tenang
Damai tersenyum
Kini kau pergi
Seakan mentari berhenti bersinar
Bunga Sausan tumbuh sejam lalu
Mekar sesaat
dua kuntum semerbak, tersenyum, bercahaya
sekuntum tak sempat tersenyum
musim gugur tlah datang
ia beristirahat menanti seruan musim semi
kuberharap kau datang lagi
dalam jelmaan mentari
Syair ini merupakan rasa’ (ratapan) terhadap kematian Amiriyah (Khalifah Mansur) sekaligus madah (pujian) keberhasilannya memimpin negeri. Yang unik dalam sya’ir ini adalah majaz yan dibuat dengan bahasa alam yang sangat indah dan halus. Dia menggambarkan kejayaan yan baru sebentar di raih mampu menyejukkan rakyatnya dan menaungi mereka dalam kesejahteraan, namun belum semua cita-cita tercapai, Khalifah telah pergi. Seperti tiga kuntum bunga yang satu kuntumnya belum sempat mekar. Dan dia berharap kelak datang penjelmaannya pada pemimpin mendatang. Tampak sekali, penyair terpengaruh oleh alam sekitarnya yang penuh warna bunga di kebun-kebun sudut kota.
Kejayaan Islam boleh terkubur di Andalusia, tapi ruhnya kan selalu hidup mengawang dalam bait-bait sya’irnya.

Hayati   Maret 08

banyak  artikel tentang sastra Arab dari masa ke masa yang ingin aku tulis. Tapi aku nggak tau kemana mo aku salur kenengan manis Islam dan Arab ini. Aku mohon saran dari Bang KW.
Aku minta maaf langsung aja nyelonong dalam mail Bang KW, tanpa memperkenalkan diri dulu.
Biodataku :
Nama   : Hayati,SS
TTL      : S.Penuh, 16 April 1979
Penddkan   : S1 Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang
Pekerjaan   : Asisten Dosen (Pak Yulizal Yunus) dalam mata kuliah Drama Arab dan Syair Arab
-Ibu Rumah Tangga

Terakhir Aku berharap Bang KW bisa ngasih saran dan kritik terhadap tulisan aku dan kalau layak, aku berharap juga bisa dimuat dalam koran yang Bang Kw pimpin agar aku lebih bersemangat nulis dan berkarya lagi.Selama ini aku ndak PD kirim, tapi setelah aku pikir kalau ndak ada yang baca tulisan aku kapan aku tau kalau aku mampu atau tak mampu.
terima kasih atas kesempatannya membaca tulisanku

PECINTA MALAM

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril
Kala malam mendayung ke tengah
Alam mulai lelap menyapa mimpi
Gemericik air mencengkrama binatang peronda
Melodi mulai bermutasi nada
Jiwa-jiwa pencinta menggeliat meng-cut mimpi indah
Ranjang hangat terhampar tak bertuan
Gemericik air wudhu’ halau bisik nakal
Hanyut ia dalam curhat panjang penuh harap
Rabbi…….. Pandang hamba dengan kasih-Mu
Malam makin pekat
Fajar kian dekat
Kala mentari menelan gelap malam
Nafasnya menghembus panjang
Nada kecewa
Megnapa takut terang
Kala banyak orang takut kegelapan
Siang merenda kebohongan
Memahat keangkuhan
wajah-wajah kemunafikan
Ia menutup mata
Tangan tak kuasa mereda
Lidah kelu menyapa
Hanya hati mencaci benci
Oh malam……..
Cepatlah kembali
Benamkan aku dalam munajat
Selimuti aku dari
Kekacauan siang
hayati       des 07

PERSAHABATAN ALAM

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril


Tepi pantai, di atas putih pasir
Sepasang mata bocah menengadah ke langit biru
Menatap lukisan awan nan beragam
Mata mungil itu penuh tanya
Lukisan apa itu?
tetap indah walau tak tau maknanya
Setiap saat berubah seiring tiupan angin
tatapannya berlabuh ke laut biru, warna nan selaras
Riak laut dipimpin angin membentuk gelombang serasi
Beberapa saat terhempas girang ke tepian
Perlahan mentari beringsut ke barat
Sinarnya melembut seakan lelah melayani siang
Di ujung laut garis lurus menyambut mentari
Menghantar ke peraduannya
Bocah kecil tak jua pulang
Merah tlah berganti hitam
Hitam yang tak menakutkan
Indah dilukis kerlip bintang
Ramah diterpa senyum rembulan
Angin pantai sejuk mengelus kulitnya
Seakan bertanya, mengapa tak pulang bocah manis?
Seperti mendengar tanya angin
Bocah kecil berdendang…………..
Betapa indah persahabatan alam
Saling menjaga saling sayang
Tak ada ambisi menzalimi
Betapa hebat disiplin alam
Mengemban amanah Tuhan
Melayani manusia tanpa kesah
Betapa angkuh manusia
Mencoba merusak persahabatan alam
Betapa pongah mereka
Mengganggu disiplin alam
Betapa naif mereka
Menuduh alam tak berahabat
Apakah alam tak bisa bersahabat?
Atau manusia yang tak menggerti arti persahabatan
Hingga aku tak bisa pulang, tetap disisi menatap langit
Sesekali menoleh iba puing-puing rumahku yang berserakan
Terisak pilu memeluk batu nisan orang-orang tercinta

hayati  jan 08

SAAT ALAM BERANG

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril
Matahari siang ini garang
Pedih menusuk kulit
Puih…!!! Asap busuk menampar wajah
Lalu, terbang angkuh ke angkasa
Mencabik pelindung bumi
Lenyap menyisa derita
Mengapa kau seperti asap itu
Matahari berang siang ini
panas, retak-retak tanah
Kering menguning dedaunan
Angin berdebu mengerang
Emosi matahari membuncah muak
Mutasikan aku Tuhan……..!! ke lain alam
Atau meledak membakar makhluk pongah ini
Gemuruh laut, biarkan aku tumpah, Tuhan……!!!
Gemeretak gunung, aku ingin muntah, Tuhan….!!!
Bumi geram, biarkan aku goncang, Tuhan…..!!!
Desau angin, izinkan aku berpusar, Tuhan….!!!
rembulan tersenyum lembut malam hari
Dalam jelaga bening
Tampak rendah di pandangan
Tinggi bertahta
andai kau begitu
Malam ini masih aku saksikan rukuk sujud pecinta malam
Masih kudengar nada zikir dan isak tangis pengharapan
Celoteh lugu bocah-bocah suci
Semangat pemuda-pemuda kahfi
Bersabarlah sahabatku, nantikan titah Tuhan
Luluh lantak alam

Di bawah komando sangkakala
hayati  feb 08

FATWA ANGIN

Juni 24, 2008 oleh hayatisyahril

Angin…, kau tak pernah kulihat
Tapi kau ada
Bekerja memimpin alam
Menngatur disiplin persahabatan
Saat ini kulihat kau melukis awan di kanvas biru
Kau pelukis ulung nan aspiratif
Setiap saat berubah indah,
Corak beragam bagai hidupku
Cerah diterpa sinar mentari
Sedih dipeluk mendung
Terkadang kau pimpin awan bertasbih
Melukis nama Allah
Angin…., tak berambisi menampakkan diri
Tapi aku selalu melihat bukti
Kau arak awan ke laut lepas
Menimba minuman alam
Menuang rahmat ke bumi
Alam kegirangan tampakkan senyum menghijau segar
Angin…,kau pemimpin sejati
Bekerja tanpa henti
Menampung semua aspirasi
Cerdas mencari solusi
Kau Tak berharap simpati
Harga dirimu sangat tinggi
Angin…, kau pemimpin familiar
Canda burung-burung kegirangan
Gelitik dedaunan menari riang
Satukan cinta, bunga-bunga tersenyum mekar
Sesekali kau menggodaku
Meniup nakal rambut panjangku
Saat gelap tiba, kau hantar alam ke peraduan
Penuh kelembutan bagai ibu meninabobokan
Angin…, kau tak pernah kulihat
Tapi selalu kurasa hadirmu
Di setiap deru nafasku
Alam mati tanpamu
Angin…….ajari kami cinta

Ajari mereka memimpin negeri
hayati  jan 08