Jika hari ini kita berkunjung ke Spanyol, tak terbetik sedikitpun di benak kita jika Islam Pernah berkuasa di sana selama ± 800 th (712M – 1492M/ 93H- 898H). waktu yang sangat fantastis !!!. Dalam kurun waktu tersebut Islam jatuh bangun dalam membangun peradaban dan kebudayaan. Hingga Andalusia saat itu satu-satunya negara Islam terjaya di Eropa. Andalusia bagai Negara Arab yang terlahir di Eropa, di segala segi berwajah Islam dan Arab, baik agama, hukum, budya, bahasa dan lainnya.Saat itu bahasa Arab adalah bahasa resmi Andalusia yang digunakan semua penduduk Islam dan non Islam.
Kini kita hanya bisa bernostalgia membaca sejarah yang kaku, kejaaan Islam di Spanyol tinggal lembar-lembar kenangan bisu. Peradaban yang dibangun berabad-abad dengan peluh perjuangan, air mata penderitaan dan darah pengorbanan, sirna tak tersisa. Namun ada kenangan abadi yang nyaris terlupakan, yang mampu membawa kita menuju lorong kejayaan Islam di Spanyol . Karya sastra!!! Ia ungkapan jujur lahir dari perasaan tulus para sastrawan yang cinta agama, bangsa dan tanah airnya. Ada bangga, kecewa, berontak, cinta. Kita akan mengintip Andalusia melalui karya sastranya.
Andalusia dalam Kenangan
Sebelum dikuasai Islam, Andalusia adalah sebuah daerah yang dikenal dengan nama Iberia dinisbahkan kepada bangsa Los Iberos penduduk pertama daerah ini, kemudian dikenal dengan nama Hespania ketika Romawi berkuasa. Sebelah selatan Hespania disebut Betica, kemudian dikenal dangan Vandalisia. Dan ketika Islam dating dan berkuasa, semua daerah itu diberi nama Andalusia diambil dari Vandalos nama sebagian besar kabilah Eropa Selatan.
Andalusia yang terletak di sebelah barat daya Eropa dikelilingi oleh perairan kecuali arah timur laut berbatasan dengan gunung Puerte yang memisahkannya dengan Perancis. Adapun perairan yang mengelilinginya adalah Samudera Atlantik di sebelah barat dan barat daya. Di arah selatan adalah pertemuan laut dan daerah tempat gunung giblaltar yang merupakan batasan sempit antara utara Afrika dan selatan Spanyol ± 15 km. Andalusia terdiri dari beberapa unsur alam yaitu dataran tinggi yan terluas bernama Maseta, setelah dataran tinggi itu, sebelah selatan ada gunung yang berjejer gunung Sierra Morena dan sebelah timur ada gunung Sistema Iberico, sebelah utara gunung Cantabrica. Andalusia juga diairi oleh sungai-sungai seperti sungai Guadalivir yan melalui dua daerah besar Cordova dan Isbelia, sungai El-Tejo yang mengalir di tengah dataran tingi Maseta, kemudian sungai Ebro yang mengalir di kota Zaragoza .
Secara geografis Andalusia adalah daerah pegunungan, dikelilingi dan dilalui oleh perairan, jelas dia daerah yang indah dan subur, sangat berbeda dengan Negara Arab lainnya. Di sinilah letak keunikan karya sastra Andalusia terutama puisi, di mana puisi Arab di jazirah Arab dalam sebagian tema dan gaya bahasa dipengaruhi oleh alam yang tandus, gersang dan panas. Sedangkan Sastra Arab di Andalusia dipengaruhi oleh alam yang indah, hijau, subur, dan sejuk. Seperti yang saya bahas dalam skripsi S1 tentang Pengaruh alam dalam Sya’ir Andalusia.
Syair-sya’ir Arab Andalusia
Karya sastra sebagai cermin jernih kehidupan, dalam tema dan idenya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyairnya. Baik lingkungan alam, ekonomi dan politik. Begitu juga dengan sya’ir-sya’ir Arab Andalusia.
Karena panjangnya rentang waktu keberadaan Islam di Andalusia, karya-karya sastranya dibagi berdasarkan perkembanan politik
1. periode wulat ; periode yang dimulai dengan kemenangan Islam tahun 93 h /712 m dan berakhir dengan berdirinya daulah bani umayyah di Andalusia dibawah kekuasaan Abdurrahman Ad-Dakhil th 138 h/755m .
2. periode pembentukan pemerintahan dimulai dari berkuasanya daulah umayyah di andalusia dibawah pemerintahan Abdurrahman Ad-Dakhil dan keturunannya sampai tahun 238 H/852M
3. periode konflik pemerintahan mulai sejak berkuasanya Abdurrahman Ausath dan dan keturunannya berakhir pada tahun 316H/929M
4. periode Khilafah/ Masa keemasan Islam di Andalusia di bawah kekuasaan Khalifah An-Nashir Lidinillah /Abdurrahman III berakhir pada tahun 366H /976M
5. periode kemunduran yang berakhir pada tahun 399H/ 1009M
6. Periode fitnah mulai sejak terpecahnya pemerintahan Andalusia menjadi beberapa daerah bagian di bawah pimpinan orang Arab dan Barbar
Masing-masing periode ini mempunyai ciri khas karya sastra yang berbeda. Di mana pada awal kekuasaan Islam di Andalusia, bentuk sya’irnya masih mengikuti style sya’ir Arab di Jazirah Arab dan penyairnya pun masih penyair rantau. Kemudian berkembang dari segi tema, style, dan struktur sya’ir.
Di segi tema, sya’irnya berkembang berdasarkan gejolak politik, sukuisme (Arab, Barbar dan Spanyol), pesona alam (perbedaan alam Andalusia dan Arab yang sangat kontras melahirkan kekaguman yang luar biasa bagi penyairnya).
Style sya’ir Arab Andalusia terkenal dengan kelembutan dan kehalusan dalam pemilihan diksi, dan gaya bahasa terutama dalam tasybih (perumpamaan) dan majaz isti’arah( personifikasi).
Dalam struktur, sya’ir Andalusia biasa mengunakan bahasa penghantar. Dan penyair masa ini menciptakan corak baru bernama Tausyih atau muwasysyah. Tausyih biasanya terdiri dari beberapa bagian, tiap bagian terdiri dari 5 bait. Bait pertama sampai ketiga dalam setiap bagian mempunyai rima /qafiyah berbeda, sedangkan bait keempat dan kelima mempunyai rima yang sama pada semua bagian. Berbeda dengan susunan syair Arab biasa yang terikat dengan Prosodi dan rima yang sama.
penyair-penyair yang terkenal masa ini adalah Abdurrahman Ad-Dakhil, Ibnu Hani Al-Andalusy, Ibnu Zaidun, Ibnu Jubair dll.
Sya’ir Abdurrahman Ad-Dakhil ketika hijrah ke Andalusia :
Batu berderai di tengah kita
pohon kurma terasing di Barat
Aku seperti dirimu terlempar jauh dari buah hatiku
Terbelenggu dalam kerinduan kekasih
Lalu hujan pagi membelai kita
Untuk tersenyum sore ini
Dari segi tema, sya’ir ini biasa saja, descriptive poetry. Tapi penyajiannya lahir dari athifah (perasaan) yang dalam. Ia mendiskripsikan pohon kurma dengan deskripsi per asaan dan mencitrakannya dengan citraan jiwa. Dia gambarkan pohon kurma terlempar jauh dari negerinya (Timur) ke negeri Barat. Dan dia komparasikan pohon kurma dengan dirinya yang terasing dan jauh dari sanak keluarga, terusir dari negerinya Bagdad karena masalah politik. Terakhir dia menghibur pohon kurma dengan turunnya hujan pagi yang menyirami seperti dia terhibur oleh keberhasilannya memimpin Andalusia dan mendirikan Daulah Bani Umayyah di sana .
Sya’ir Ibnu abdi Rabbih
Cakrawala menyihir dalam genggam pena
Berkisar di tubuh lembar-lembar
Kuterpana
Lafaz asingnya bercerita indah
Kita terpesona membisu, telinga hanyut dalam nyanyiannya
Mata terpukau saksikan tariannya
Hanya kau mengetuk hati
Saat kau meliuk lukisan indah tercipta
Kau mutiara kata terpelihara
Lalu…titikmu menghujan di atas kitab
Sya’ir ini lahir pada masa keemasan Islam di Andalusia di bawah pimpinan Abdurrahman III, masa yang jaya di semua aspek kehidupan. Ekonomi, pembangunan, budaya, sastra dan ilmu pengetahuan. kemajuan yang nyaris sempurna. Penyair sanggat terispirasi dengan pena sebagai alat penyebar ilmu pengetahuan dan sastra.
Sya’ir Abu Mutharrif Ibn Abi Hibbab
Tiada hari seindah hari-hari kita bersama Amiriyah
Sejuknya Air, teduhnya naunganmu
Cuaca yang selalu cerah dan tenang
Damai tersenyum
Kini kau pergi
Seakan mentari berhenti bersinar
Bunga Sausan tumbuh sejam lalu
Mekar sesaat
dua kuntum semerbak, tersenyum, bercahaya
sekuntum tak sempat tersenyum
musim gugur tlah datang
ia beristirahat menanti seruan musim semi
kuberharap kau datang lagi
dalam jelmaan mentari
Syair ini merupakan rasa’ (ratapan) terhadap kematian Amiriyah (Khalifah Mansur) sekaligus madah (pujian) keberhasilannya memimpin negeri. Yang unik dalam sya’ir ini adalah majaz yan dibuat dengan bahasa alam yang sangat indah dan halus. Dia menggambarkan kejayaan yan baru sebentar di raih mampu menyejukkan rakyatnya dan menaungi mereka dalam kesejahteraan, namun belum semua cita-cita tercapai, Khalifah telah pergi. Seperti tiga kuntum bunga yang satu kuntumnya belum sempat mekar. Dan dia berharap kelak datang penjelmaannya pada pemimpin mendatang. Tampak sekali, penyair terpengaruh oleh alam sekitarnya yang penuh warna bunga di kebun-kebun sudut kota.
Kejayaan Islam boleh terkubur di Andalusia, tapi ruhnya kan selalu hidup mengawang dalam bait-bait sya’irnya.
Hayati Maret 08
banyak artikel tentang sastra Arab dari masa ke masa yang ingin aku tulis. Tapi aku nggak tau kemana mo aku salur kenengan manis Islam dan Arab ini. Aku mohon saran dari Bang KW.
Aku minta maaf langsung aja nyelonong dalam mail Bang KW, tanpa memperkenalkan diri dulu.
Biodataku :
Nama : Hayati,SS
TTL : S.Penuh, 16 April 1979
Penddkan : S1 Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang
Pekerjaan : Asisten Dosen (Pak Yulizal Yunus) dalam mata kuliah Drama Arab dan Syair Arab
-Ibu Rumah Tangga
Terakhir Aku berharap Bang KW bisa ngasih saran dan kritik terhadap tulisan aku dan kalau layak, aku berharap juga bisa dimuat dalam koran yang Bang Kw pimpin agar aku lebih bersemangat nulis dan berkarya lagi.Selama ini aku ndak PD kirim, tapi setelah aku pikir kalau ndak ada yang baca tulisan aku kapan aku tau kalau aku mampu atau tak mampu.
terima kasih atas kesempatannya membaca tulisanku